ATRIBUT NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

Empat hari yang lalu, pada tanggal 17 Agustus 2013  negara kita Republik Indonesia genap berusia 68 tahun merdeka. Berbagai kegiatan untuk memperingati hari kemerdekaan tersebut marak diselenggarakan di media televisi maupun di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja.

Saya sempat kecewa melihat tayangan televisi yang menayangkan wawancara spontanitas anatara reporter dengan beberapa selebriti mengenai atribut Negara Kesatuan Indonesia. Sungguh disayangkan, selebriti yang juga menjadi anggota dewan perwakilan rakyat tidak bisa menjawab bahkan berkelit bahwa kinerjanya tidak bisa hanya diukur dengan hafal atau tidaknya dia dengan atribut Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pertanyaannya, jika atribut negara saja tidak hafal, atau bahkan tidak tahu, bagaimana bisa bekerja sesuai rules yang ada jika rulesnya saja tidak tahu bahkan tidak hafal?

Baiklah, daripada meributkan masalah diatas, alangkah baiknya kita ingat kembali apakah atribut negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

ATRIBUT NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

A.  Bendera : Sang Saka Merah Putih Continue reading

FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrShare

RESOLUSI IDUL FITRI

Beberapa hari lalu umat muslim merayakan hari raya idul fitri setelah melaksanakan ibadah puasa selam satu bulan. Semoga dengan berakhirnya ramadhan bukan berarti kita berhenti memaknai hakikat puasa, yaitu mendidik mata, telinga mulut, tangan, kaki dan segenap anggota badan kita untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama. Bahkan jika kita mampu, sebelas bulan ke depan kita diminta untuk meningkatkan derajat hakikat puasa ramadahan yang sudah kita jalani dengan menahan hati dari nafsu dan pikiran yang mengalihkan kita dari Allah SWT.

Namun, sebelum kita berandai-andai dapat mencapai derajat tertinggi puasa, tampaknya kita harus  merenungi 29 hari yang telah kita jalani. Benarkah lapar dahaga yang kita lakukan pantas mengantyarkan kita pada derajat fitrah, kembali menjadi bayi dan putih tanpa dosa. Benarkah pantas kita merasa menang melawan nafsu sedbulan dengan sejenak memalingkan muka dari gaya hedonisme yang memukau lalu merasa berhak memaknai Idul Fitri dengan perayaan kembalinya makan dan minum?

Benarkah waktu sore tidak kita habiskan dengan menyiapkan takjil dan makanan besar untuk membayar haus dan lapar sejak fajar? Benarkah kita  berbuka tidak terlalu kenyang, sehingga mencari-cari alasan untuk tidak turut  sholat tarawih? Benarkah pikiran kita menyambut Idul fitri tidak disibukkan dengan sarung, baju, sepatu dan mobil baru?

Tidak ada salahnya Idul Fitri dimaknai sebagai momentum tepat untuk membuat resolusi diri menyongsong sebelas bulan yang akan datang sampai ramadhan berikutnya tiba.

Resolusi diri dimulai dengan kesadaran mengenai dua fungsi kita sebagai manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT, sekaligus mengelola bumi ini dengan sebaik-baiknya.

KEWAJIBAN BERIBADAH

Fungsi pertama mengharuskan manusia untuk tidak pernah lupa melakukan kewajibannya beribadah, baik wajib maupun sunnah kepada Allah SWT, karena itulah manusia (dan jin) diciptakan. Namun Allah SWT tidak memberikan perintah kepada makhlukNya untuk terus menerus beribadah tanpa henti, sehingga melupakan jati dirinya sebagai manusia.

Fungsi kedua kewajiban bagi manusia untuk menjalankan fungsi sosialnya sehingga mampu mengelola bumi ini dengan baik (QS Al Baqarah ayat 30) dan menuntut manusia untuk mempunyai peran dalam semua aspek yang berkaitan dengan kemajuan peradaban dan hajat hidup manusia. Pada funsgsi ini sebenarnya seseorang harus meletakkan prioritas hidupnya. menjadi khalifah di dunia berarti mengharuskan manusia untuk selalu up dated dengan masalah-masalah peradaban kontemporer yang timbul sekaligus mampu mencari solusi yang tepat, cepat dan berkeadilan.

Menjadi khalifah di dunia juga berarti harus mampu mengelola hubungan antar manusia dengan harmonis tanpa memaksakan kehendak, kepercayaan dan nilai-nilai kepada manusia lain secara anarkis dan tidak bermartabat.

Sebaliknya, manusia menjadi khalifatullah yang sebenarnya jika mampu mengejawantahkan nilai-nilai luhur yang dibawa Al Quran, Sunnah dan as shaih pada realitas dunia dan bangsa yang majemuk, sehingga membawa kebaikan sosial tidak hanya kepada masyarakat muslim melainkan menjadi rahmat kepada seluruh alam ini.

Kedua fungsi di atas saaling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena dari dua aspek itu tercipta keseimbangan kehidupan ritual dan sosial, transenental dan horisontal serta keseimbangan dunia dan akhirat seorang manusia. idul Fitri kali ini layak kita maknai dengan resolusi diri untuk bertekad menjadi insan yang mampu menjalankan dua tugas dasarnya sehingga tercipta equilibrium baru yang harmonis dari dalam jiwa kita.

Dengan harapan pada tahap berikutnya keseimbangan individual itu membawa kehidupan berbangsa yang lebih baik bagi negara kesatuan yang majemuk ini.

Sumber:

Abdul Ghaffar Rozin, STAI Mathaliul Falah, Pati