Detail Penulangan Pada Sambungan Struktur Bangunan Tahan Gempa

Patah dan Retakan pada Sambungan Struktur dan Dinding RumahGambar 1. Patah pada Sambungan Struktur dan Retakan pada Dinding

Sepanjang sejarah umat manusia, bencana gempa bumi telah menimbulkan banyak korban jiwa dan harta benda. Korban jiwa sebenarnya tidak disebabkan langsung oleh gempa bumi, namun seringkali disebabkan oleh tertimpa reruntuhan bangunan rumah atau gedung. Kerusakan bangunan akibat gempa terutama pada rumah-rumah penduduk satu lantai atau lebih disebabkan antara lain rumah tersebut tidak memiliki rangka beton bertulang, tidak diplester, atau memiliki rangka beton bertulang tapi tidak memenuhi syarat rumah tahan gempa. Pada Kejadian gempa yang terjadi di Indonesia, Liwa (1994), Banyuwangi (1996), Palu (1995), Kerinci (1996), Bengkulu (2000), Alor (2004), Nabire (2004), Aceh (2004), Nias (2005), DIY dan Jawa Tengah (2006), fenomena kerusakan bangunan yang terjadi memiliki banyak kesamaan, yaitu bangunan yang dibuat oleh masyarakat sendiri atau secara komunal, tanpa adanya ilmu dan teknologi bangunan rasional tahan gempa.

 

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas ditambah lagi kondisi letak geografis Indonesia terletak di antara 4 (empat) sistem tektonik yang aktif, maka bangunan di Indonesia harus mampu menahan gempa, bangunan tahan gempa dapat diartikan sebagai suatu bangunan yang dikerjakan dengan memperhatikan kaidah-kaidah struktur dan konstruksi yang benar dalam perencanaan dan pelaksanaanya, pada dasarnya tidak ada bangunan yang dikatakan “TAHAN” seluruhnya terhadap gempa bumi Bangunan Tahan Gempa diartikan paling tidak “MENGURANGI RESIKO AKIBAT GEMPA”. Sedangkan kaidah kaidah bangunan tahan gempa yaitu :



  1. Bila terjadi gempa ringan, bangunan tidak mengalami kerusakan sama sekali.
  2. Bila terjadi gempa sedang, bangunan boleh mengalami kerusakan pada elemen non struktural, tetapi tidak boleh rusak pada elemen-elemen struktural.
  3. Bila terjadi gempa besar, bangunan boleh mengalami kerusakan pada elemen non struktural dan elemen struktural, akan tetapi tidak boleh runtuh, baik sebagian maupun keseluruhan, dan kerusakan yang terjadi dapat diperbaiki. Tidak runtuhnya bangunan disebabkan bangunan bersifat

Dengan demikian pada masyarakat yang ada di wilayah-wilayah gempa kuat, harus memiliki kesadaran akan rancangan bangunan perumahan yang tahan gempa. Norma Standar Pedoman Manual (NSPM) mengenai Rumah Tahan Gempa sebaiknya sudah tersedia sebelum deretan kejadian gempa kuat tersebut

Dasar pembangunan rumah tahan gempa yaitu :

  1. Mutu Bahan Bangunan Yang Baik
  2. Mutu Pengerjaan Yang Baik
  3. Semua Komponen Bangunan, meliputi Pondasi, Sloof, Kolom, Balok, Dinding, Rangka Atap, Atap harus DISAMBUNG SATU DENGAN LAINNYA agar jika terjadi goncangan gempa, bangunan bergetar sebagai satu kesatuan.

 

Contoh detail sambungan seperti pada gambar dibawah ini :

 

Detail Sambungan 5

Gambar 2. Detail Sambungan Kolom dengan Balok

 

Detail Sambungan Pondasi dengan Sloof

Gambar 3. Detail Sambungan Sloof dengan Pondasi

Detail Sambungan Sudut

Gambar 4. Detail Sambungan Sudut untuk Sloof atau Ringbalk

Detail Sambungan 4

Gambar 5. Detail Sambungan Sloof dengan Kolom

Detail Sambungan 6

Gambar 6. Detail Sambungan Pada Kuda-Kuda Beton

Semoga detail sambungan struktur bangunan tahan tersebut di atas dapat bermanfaat untuk kita semua dalam mengawal pembangunan infrastruktur khususnya bangunan rumah dan bangunan gedung.

Sumber :

ICUS Conference, Singapore, Reconstruction of Houses in Aceh, Seven Months after Earthquake and Tsunami, Teddy Boen, 2004

World Seismic Safety Initiative, Membangun Rumah Tembokan Tahan Gempa, Teddy Boen Dkk, 2005

SNI 1726-2012 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung

FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrShare

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *