SELAMATKAN AIR UNTUK KEHIDUPAN KITA

Tahun 2025 menurut prediksi para ahli, Indonesia akan mengalami kesulitan air bersih (MetroTV). Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, rusaknya lingkungan, tingginya polusi dan pencemaran lingkungan ditambah rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola penggunaan air bersih semakin memperkuat prediksi tersebut. Apabila tidak ada tindakan antisipasi maka bukan tidak mungkin kesulitan air bersih lebih cepat dari prediksi tersebut.

Air pada Sumur Gali

Gambar 1. Air Tanah pada Sumur Gali

Sebenarnya, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menghemat air dengan cara sederhana. Kuncinya adalah mengubah kebiasaan kita dalam menggunakan air. Berikut beberapa contoh perilaku untuk menghemat air bersih:

1. Manfaatkanlah air secara optimal, selalu merawat dan tidak membiarkan jalur pipa bocor. Perbaiki segera jika terdapat kebocoran instalasi pipa air di  Continue reading

FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrShare

MENGAPA BETON ITU PERLU DIUJI?

Saya senang sekali mendapatkan pertanyaan dari seorang mahasiswa teknik sipil di tempat saya bekerja. Pertanyaannya begini Mbak, mengapa beton itu perlu diuji? Jarang sekali ada yang bertanya demikian, biasanya mereka sering menganggap membuat beton itu mudah dan sederhana. Baca juga tulisan saya yang berjudul Apakah Beton itu

Proses Uji Tekan Beton Silinder

Gambar. Proses Pengujian Kuat Tekan Silinder Beton

Beton adalah salah satu pilihan material bangunan selain kayu, baja dan smart material yang banyak berkembang dewasa ini. Beton normal dibuat dari campuran air, semen, kericak/split, dan pasir. Meskipun terkesan sederhana, untuk membuat beton yang baik masing-masing bahan penyusun beton ini harus memenuhi persyaratan. Yuk, mengenal berbagai macam pengujian  Continue reading

BELAJAR ARIF DARI SUKU BADUI

Sungai

Gambar 1. Sungai

Kearifan lokal masyarakat baduy perlu ditiru. Terutama aturan merawat hutan dan sungai. Penduduk kota mengenyam pendidikan formal mestinya malu dengan orang Baduy yang hidup di hutan namun setia merawat lingkungan.

Merawat Sungai

Selain memiliki aturan keras terhadap pengelolaan ladang dan hutan, masyarakat Baduy juga memiliki aturan keras terhadap pengelolaan sungai. Masyarakat Baduy dalam, dilarang keras mengotori sungai dengsn ahan kimia apapun. Ketika mandi di sungai, mereka dilarang memakai sabun dan samphoo. Mereka juga tidak bisa menggunakan pasta gigi.

Aturan yang satu ini diterapkan kepada seluruh orang yang memasuki wilayah Baduy dalam. “Sebagai ganti sabun dan pasta gigi kami menggunakan batang dan bunga pohon honje. Selain bisa membersihkan badan, pohon honje juga akan membuat tubuh wangi. Kalau sikat gigi kami pakai sabut kelapa.”

Aturan menjaga sungai dari bahan kimia sudah diajarkan secara turun temurun. “Nenek moyang kami melarang kami mengotori sungai. Sungai harus  dijaga kebersihan dan kelestariannya.”

Penggunaan sabun, shampoo dan pasta gigi bisa dilakukan di wilayah Baduy luar. Di wilayah itu aturan pengelolaan sungai agak longgar.

Direktur Permukiman dan Perumahan Badan Petencanaan Pembangunan Nasional, Nugroho Tri Utomo mengatakan kearifan lokalmasyarakat Baduy Dalam menjaga lingkungan perlu ditiru masyarakat lainnya. Terutama kebiadaan mereka menjaga hutan dan sungai. Orang di perkotaan yang memiliki pendidikan formal semestinya malu dengan oramg Baduy di hutan yang bisa menjaga lingkungannya.  Di kota banyak orang membuang sampah sembarangan, mengotori sungai dan merusak fungsi sungai bagi kelestarian alam

Sungai dan kompenen pendukungnya

Sungai merupakan tempat mengalirnya air yang nantinya berakhir di laut. Tidak hanya berfungsi mengalirkan air, sungai juga merupakan habitat bagi kehidupan air. Beberapa makhluk hidup air seperti ikan, udang, kerang air tawar, siput dan masih banyak lagi hidupnya bergantung pada sungai. Tumbuhan dan vegetasi  juga tumbuh subur di sepanjang sungai. Manusia juga memerlukan air sungai untuk mengairi sawah dan ladangnya menunjukkan betapa pentingnya fungsi aliran sungai.

Mari kita mengenal Sungai, sungai memiliki komponen yang dinamakan bantaran sungai. Bantaran sungai ini letaknya berada di kanan dan kiri memanjang sepanjang aliran sungai. Konturnya berada lebih tinggi dari dasar sungai itu sendiri, bantaran sungai ini memiliki fungsi penting, yaitu menampung luapan air jika sungai sudah tidak mampu lagi  menampung kapasitas air dalam badan sungai. Permasalahan banjir yang terjadi di kota besar, salah satunya disebabkan alih fungsi bantaran sungai menjadi permukiman liar. Permukiman yang salah lokasi ditambah dengan gaya hidup yang tidak sehat, membuang sampah sembarangan menyebabkan pendangkalan dan aliran air sungai tidak dapat mengalir secara optimal sehingga mengakibatkan banjir.

Drainase / Pipa pembuangan 2

Gambar 2. Potret Drainase Perkotaan di Tengah Kota

Drainase, drainase perkotaan atau yang lebih dikenal dengan saluran merupakan faktor utama penentu tingkat pencemaran sungai. Umumnya warga mengalirkan air limbah rumah tangga langsung ke saluran-saluran disekitar rumah mereka. Minimnya kesadaran menjaga lingkungan ditambah kurangnya peran aktif dari institusi terkait memperparah kondisi pencemaran tingkat drainase perkotaan yang kemudian akan dibawa mengalir ke sungai. Jujur saja apakah rumah kita masing-masing, sudahkah adakah bak ontrol untuk mengendapkan, mengolah air sisa mandi, air sisa mencuci, air sisa cucian dapur sebelum keluar menuju saluran/ drainase perkotaan? Sudahkah ada penyaring dengan zeolit dan karbon aktif untuk menjernihkan dan menetralisir limbah rumah tangga tersebut? Jangan salahkan warga, bisa jadi belum banyak yang tahu bagaimana cara mengolah air limbah sisa rumah tangga tersebut supaya alam terhadap lingkungan. Ini tugas kita, ini pekerjaan rumah untuk kita semua. tanggung jawab kita bersama.

Apakah itu Saluran Terbuka dan Saluran Tertutup?

Berbicara tentang drainase, drainase perkotaan kita dapat lepas dari saluran. Sebagian besar orang teknik tentu sudah mengetahui apakah itu saluran terbuka dan apakah itu saluran tertutup? Saluran terbuka adalah Continue reading

AIR BERSIH ADALAH KEBUTUHAN DASAR

Rekahan tanah akibat kekeringam

Gambar 1. Rekahan Tanah akibat Kekeringan

Warga masih sulit peroleh air bersih, demikian judul pada Harian Suara Merdeka tanggal 3 Oktober  2013.  Memasuki musim kemarau, beberapa daerah mulai kesulitan mendapatkan air, salah satunya adalah Kabupaten Blora. Sebagian warga di Kabupaten Blora mulai membeli air untuk memenuhi kebutuhan air. Harga air 1 jerigen (+/-30 Liter) senilai Rp. 10.000,00 harga tersebut dapat berubah tergantung penawaran dan jarak angkut.

Air Kran
Gambar 2. Air Kran

Kebutuhan air bersih sangat mendesak, terutama pada musim kemarau. Kebutuhan ini tidak hanya  dirasakan oleh  masyarakat Kabupaten Blora saja, tetapi banyak wilayah di Indonesia yang mengalami hal serupa. Semua makhluk hidup memerlukan air untuk keberlangsungan hidupnya, sehingga diperlukan rencana dan tindakan  yang tepat untuk mengatasinya. Kementerian Pekerjaan Umum, Bappenas dan Kementerian Lingkungan Hidup telah bersama-sama menyusun Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM). Mengapa RPAM? Continue reading

Di Bawah Naungan Gletser

Sebuah tulisan yang hampir dua minggu lebih terperangkap di dalam folder konsep, belum tersentuh untuk diterbitkan. tulisan yang sebenarnya dipersembahkan untuk hari bumi tanggal 22 April. Menceritakan tentang air. Air merupakan elemen alam yang sangat vital bagi kehidupan seluruh makhluk hidup dan proses kehidupan. Kebutuhan terhadap air harus terpenuhi baik dari aspek kuantitas maupun kualitas. Sumber pemenuhan air baku bagi kehidupan manusia antara lain air tanah dan air permukaan. Namun di sisi lain, kerusakan lingkungan dan efek dari revolusi industri yang terkadang mengabaikan dampak lingkungan mempengaruhi perubahan iklim global di bumi.

Sebanyak seperlima gletser di Himalaya telah menyusut karena mencair dalam kurun 30 tahun terakhir. Rinciannya antara lain, 21 persen gletser di Nepal dan 22 persen gletser di Butan mencair.

Gletser

Fakta itu merupakan hasil penelitian  Continue reading

PERANCANGAN CAMPURAN ADUKAN BETON YANG BAIK (BERDASARKAN SNI 03-2834-2000)

Terima kasih atas apresiasinya pada tulisan terdahulu yang berjudul apakah campuran adukan beton anda sudah benar? (silahkan lihat di http://dwikusumadpu.wordpress.com/2012/10/28/apakah-campuran-adukan-beton-anda-sudah-benar/ ) dan apakah beto itu? (lihat di http://dwikusumadpu.wordpress.com/2012/06/26/apakah-beton-itu/  ), sehingga saya rasa perlu untuk menulis tentang tata cara perancangan campuran adukan beton yang sesuai aturan yang berlaku. Aturan mengenai tata cara perancangan beton normal sudah diatur dalam Standart Nasional Indonesia yaitu SNI 03-2834-2000  tentang Tata Cara Pembuatan Rancangan Campuran Beton Normal yang merupakan pembaruan kode dari SNI 03-2834-1993 (Isinya sama).

Campuran adukan cor beton

Gambar 1. Proses pembuatan adukan beton

Membuat beton sebenarnya tidak sesederhana yang biasa kita lihat dalam membuat struktur bangunan sederhana, yang hanya sekedar mencampurkan material pasir, batu pecah (split), semen dan air. Jika ingin membuat beton yang baik,  Continue reading

Peranan Air dalam Pembuatan Beton

Dalam pembuatan beton, air merupakan salah satu faktor penting, karena air bereaksi dengan semen akan menjadi pasta pengikat agregat. Analogi sederhana, pernahkah anda membuat agar-agar? Pembuatan agar-agar,  dalam 1 (satu) sachet  tentu mempunyai takaran air tertentu supaya terbentuk suatu agar-agar yang keras tetapi tetap kenyal dan lembut. Misalkan, untuk membuat 1 (satu) sachet agar-agar diperlukan hanya 1 gelas air, bayangkan jika penambahan air melebihi komposisi yang disarankan??? Bayangkan, jika 1 (satu) sachet ditambahkan air 1 ember??? Apakah akan terbentuk agar-agar yang keras, kenyal dan lembut???

Contoh diatas adalah memperlihatkan pentingnya komposisi air. Air  berpengaruh terhadap kuat tekan beton, karena kelebihan air akan menyebabkan penurunan pada kekuatan beton itu sendiri. Selain itu kelebihan air akan mengakibatkan beton mengalami bleeding, yaitu air bersama-sama semen akan bergerak ke atas permukaan adukan beton segar yang baru saja dituang. Hal ini akan menyebabkan kurangnya lekatan beton antara lapis permukaan (akibat bleeding) dengan beton lapisan di bawahnya. Kurangnya lekatan antar dua lapisan tersebut merupakan area yang lemah. Air pada campuran beton akan berpengaruh terhadap sifat workability adukan beton, besar kecilnya nilai susut beton, kelangsungan reaksi dengan semen portland sehingga dihasilkan kekuatan selang beberapa waktu, dan peranan air sangat mendukung perawatan adukan beton diperlukan untuk menjamin pengerasan yang baik.

Air untuk pembuatan beton minimal memenuhi syarat sebagai air minum yaitu tawar, tidak berbau, bila dihembuskan dengan udara tidak keruh dan lain-lain, tetapi tidak berarti air yang digunakan untuk pembuatan beton harus memenuhi syarat sebagai air minum.

Penggunaan air untuk beton sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut ini, (Tjokrodimulyo, 2007):

1)      Tidak mengandung lumpur atau benda melayang lainnya lebih dari 2 gr/ltr.

2)      Tidak mengandung garam-garam yang dapat merusak beton (asam, zat organik) lebih dari 15 gr/ltr.

3)      Tidak mengandung Klorida (Cl) lebih dari 0,5 gr/ltr.

Faktor air semen (fas) adalah perbandingan berat antara air dan semen Portland  di dalam campuran adukan beton. Dalam praktek pembuatan beton nilai fas berkisar antara 0,4 sampai dengan 0,6. Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan beton secara umum dapat ditulis menurut Abrams (dalam Tjokrodimulyo, 2007) dengan persamaan :

f’c = A/Bx

dimana ;

f’c  =  Kuat tekan beton (MPa)

x  =  Perbandingan volume antara air dan semen (fas)

A, B =  Konstanta

Apakah Campuran Adukan Beton Anda Sudah Benar?

Beton adalah salah satu bahan bangunan yang komponen penyusunnya campuran dari beberapa bagian material, yaitu agregat kasar, agregat halus, semen dan air dengan komposisi tertentu untuk mencapai kekuatan pada durasi waktu tertentu. Perlu  ketahui kekuatan beton sangat bervariasi sesuai dengan komposisi yang digunakan. Menurut SNI 7394 -2008 tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Beton Untuk Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan berikut contoh komposisi adukan beton untuk beberapa jenis kekuatan beton :

3 (tiga) contoh diatas menunjukkan pada masing-masing kekuatan beton akan berbeda jika jumlah komposisi bahan tiap adukan beton per m kubiknya berbeda. Pertanyaannya apakah pelaku pekerjaan konstruksi mengetahui  mematuhi hal tersebut? Saya sangat terkejut mengetahui kondisi yang terjadi di lapangan. Entah para pelaku konstruksi pin pin bo (pintar-pintar bodo) alias pura-pura tidak tau? atau memang tidak mengerti tentang hal ini? Padahal analisa SNI 7394 -2008 tentang Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Beton Untuk Konstruksi Bangunan Gedung dan Perumahan yang berisi komposisi adukan beton ini jelas tercantum pada dokumen kontrak. Pertanyaan kedua muncul, apakah pelaku konstruksi membaca isi dokumen kontrak? Coba, anda buka dokumen kontrak kegiatan atau proyek yang sedang anda kerjakan atau anda sebagai pengawas teknis lapangannya. Kemudian tanyakan, beton yang akan dikerjakan K berapa? Berapa perbandingan komposisi bahan Semen (PC) : Pasir Beton (PB) : Kericak (KR)?

Saya tidak habis pikir, saat saya tanyakan mereka menjawab, Beton K 175 dengan komposisi 1 PC : 3 PB : 5 KR. Bagaimana dengan Beton K 225?  mereka menjawab komposisi 1 PC : 2 PB : 3 Kr. Saat saya tanya lebih mendalam mereka menjawab BIASANYA YA SEPERTI ITU….

WOW…. Seperti inikah kualitas para pelaku konstruksi kita?



Mari kita coba hitung komposisi adukan beton K 175 dengan berat satuan Semen = 1250 kg/m3 ; air = 1000kg/m3 ; pasir beton = 1400 kg/m3 dan kericak 1350 kg/m3 Continue reading

Apakah Beton itu?

Beton adalah salah satu bahan bangunan yang komponen penyusunnya campuran dari beberapa bagian material, yaitu agregat kasar, agregat halus, semen dan air dengan komposisi tertentu untuk mencapai kekuatan pada durasi waktu tertentu.  Pada beton, empat jenis bahan penyusun tersebut dicampur dengan perbandingan tertentu sesuai dengan mutu beton, nilai slump, kondisi lingkungan yang diinginkan pada suatu konstruksi bangunan. Bila sudah dicampur bahan-bahan tadi akan menjadi suatu massa seperti seperti batuan, karena terjadi reaksi kimia dari semen dan air.

Beton ada berbagai macam jenisnya, misal beton normal, beton ringan, beton berat, beton non pasir, beton kedap air, beton massa, beton serat, Beton mutu tinggi HSC (High Streght Concrete), Beton memadat sendiri SCC  (Self Compacting Concrete)

Membuat beton tidak sesederhana yang kita sering lihat pada pembuatan bangunan sederhana, hanya sekedar mencampurkan batu, pasir, semen dan air saja. Menurut saya membuat beton hampir mirip dengan membuat roti. Analoginya simpel saja,  Kita mau membuat roti apa? Roti yang bantat? Roti yang lembut? atau roti yang seperti kapas?

Jika Beton yang ingin anda hasilkan adalah beton yang baik, dalam arti memenuhi persyaratan yang berlaku pada SNI (Standart Nasional Indonesia), ASTM (American Society of Testing and Materials) ACI ( American Concrete Institute) atau standart lainnya, karena tuntutan pekerjaan pembetonan yang lebih tinggi, maka cara-cara memperoleh adukan beton harus diperhitungkan dengan seksama.

Sifat adukan beton normal segar yang baik adalah workabilty (mudah diaduk), mudah diangkut, mudah dituang, dapat dipadatkan, tidak ada kecenderungan untuk terjadi segregasi (pemisahan kerikil dari adukan beton) maupun bleeding (air bersama-sama semen akan bergerak ke atas permukaan adukan beton segar yang baru saja dituang) sehingga mengakibatkan beton yang diperoleh jelek. Beton yang baik adalah beton yang kuat, tahan lama/ awet kedap air, tahan aus, sedikit mengalami perubahan volume (kembang /susutnya)

Tahapan pekerjaan pembetonan yang benar meliputi :

1. Pemeriksaan sifat bahan dasar meliputi batu sebagai agregat kasar, pasir sebagai agregat halus, semen dan air

2. Pemeriksaan alat dan pelaksanaan pembuatan beton

3. Tentukan jenis dan mutu beton yang diinginkan

4. Perancangan campuran adukan beton

5. Percobaan campuran adukan beton

6. Pelaksanaan campuran adukan beton

7. Pengendalian pekerjaan pembetonan meliputi pemantauan dan evaluasi selama pekerjaan pembetonan.

Kekuatan, keawetan, kekedapan , berat jenis dan sifat beton yang lain bergantung pada sifat-sifat bahan-bahan dasar, perbandingan bahan-bahannya, dan cara pengerjaan (pengadukan, transportasi , penuangan, pemadatan dan perawatan selama proses pengerasan)

PERBURUAN AIR DI GUNUNGKIDUL

Sungai menderas di utara. Di selatan air melaju nun jauh di bawah tanah. Di atasnya hiduplah masyarakat yang beburu air sepanjang tahun.

Di suatu pagi yang temaram, sekelompok lelaki tanah kapur berjalan beriringan memasuki sebuah mulut gua. Beberapa memanggul jerigen plastic atau kaleng. Yang lainnya menggenggam erat obor yang menyala. Mereka hendak memburu air. Di dalam kegelapan relung-relung perut Bumi yang lembap, obor adalah pelita, juga menanda cukup tidaknya udara segar. Bila api dari obor telah padam, berarti oksigen telah menipis dalam ruang yang mereka pijak dan itu artinya mereka harus berbalik pulang ke rumah dengan atau tanpa air. Keseharian manusia tanah kapur Gunungkidul memang penuh dengan perjuangan mencari air bagi kehidupan sehari-hari, sejak dulu.

Tanah Gunungkidul selatan yang gamping memaksa warga memeras keringat demi air bersih. Di wilayah tersebut, tanah tidak pernah membiarkan air hujan menggenang lama. Air hanya mengalir di di perut bumi dan bias ditemukan dengan menuruni lorong-lorong gua. “Ada yang cukup ditelusuri dengan jalan kaki melalui gua horizontal dan tidak terlalu dalam. Ada juga yang jauh sekali di dalam. Ada yang terletak di kedalaman 100 meter lebih dari permukaan luweng atau liang vertikal” papar Sintia Windhi, ahli Geofisika Universitas Gadjah Mada yang juga seorang penelusur gua.

Gunungkidul selatan merupakan kawasan perbukitan karst, bagian dari Pegunungan Karst Gunungsewu yang membujur di selatan Jawa. Menurut Sintia, dahulu wilayah selatan Gunungkidul adalah dasar laut yang kedalamannya berkisar hingga 200 meter. Butuh proses yang memakan waktu 15 juta tahun bagi dasar laut yang dipenuhi terumbu karang itu untuk terngkt ke atas laut, menjadi batu, tenggelam kembali di bawah permukaan air (pada masa ini terumbu karang tumbuh kembali), kemudian terangkat kembali ke permukaan sehingga kini akhirnya didiami oleh penduduk. Alhasil kawasan Gunungkidul selatan tersusun dari lapisan-lapisan karang yang terbatukan menjadi gamping.

Ahli hidrologi karst Universitas Gadjah Mada Tjahyo Nugroho Adji menambahkan, epikarst (bagian paling atas dari wilayah karts, berupa bukit berbentuk kerucut) memiliki fungsi paling vital dalam penyediaan air. Lapisan yang memiliki ketebalan maksimal 5 meter itu terbentuk dari gamping yang lapuk dan terlarut jadi lapisan tanah. Inilah bagian terbesar yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan air tanah yang jatuh di kawasan Gunungkidul selatan.

”Namun, air yang berada di lapisan ini tidak bisa diambil karena masih tercampur dengan udara dan tanah. Air ini baru bisa digunakan jika sudah mengalir menjadi sungai bawah tanah. Jadi jika kawasan epikarst tidak dikonservasi, maka debit air sungai bawah tanah berkurang pula” paparnya.

Nasib sejarah Buni inilah yang membuat Gunungkidul selatan tidak seelok Gunungkidul utara yang berupa perbukitan tanah vulkanis tua, dikenal sebagai daerah Perbukitan Baturagung. Daerah ini memiliki sifat tanah yang tipis dengan batuan beku, keras dan sulit menyimpan air. Saat tercurah dari langit, air pun akan langsung mengalir membentuk sungai di permukaan lanskap tanahnya.

Sehingga, meski terletak jauh dari sungai warga di sejumlah pedusunan masih tetap bisa mengalirkan air sungai dengan pipa-pipa bambu atau PVC yang sambung menyambung hingga sepanjang 2,5 kilometer. Prakteknya itu misalnya dapat dilihat di dudun Nglampar, Kecamatan Patuk, Gunungkidul utara.

Tetangganya di wilayah Gunungkidul tengah juga memiliki nasib lebih baik. Pada zaman Miosen, saat wilayah selatan terangkat, bagian tengah mengalami tekanan hingga membentuk cekungan. Saat itu sungai bawah tanah di wilayah selatan belum terbentuk sehingga aliran air dari pengunungan karst di bagian timur dan tyimur laut mengalir ke cekungan ini sambil membawa rombakan batu gamping dan mengendapkannya. Lama kelamaan endapan berubah menjadi tanah tebal sehingga cekungan itu menjadi pusat kehidupan yang kaya air.

Hingga kini, masyarakat di wilayah Gunungkidul tengah mampu menemukan air melimpah di sumur dangkal berkedalaman lima hingga 12 meter yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga untuk bercocok tanam sepanjang tahun.

Di Selatan saat musim penghujan, masyarakat berusaha memanen hujan dengan menggunakan  bak penampungan. Saat kemarau mendera, berbagai bentuk perburuan air pun dimulai. Dengan berjalan kaki atau sepeda motor, warga tanah kapur akan pergi mencari gua tempat mengalirnya sungai-sungai bawah tanah, sumur dalam yang masih basah, atau kubangan yang tetap menyisakan air.

Beruntung sebagian dari mereka terutama di permukiman yang teramat jauh dari sumber air kini dapat mengandalkan truk-truk tangki bantuan pemerintah atau organisasi nirlaba yang berkunjung di permukiman mereka. Hanya saja, setiap kepala keluarga tetap harus merogoh kantong hingga 100 ribu rupiah setiap bulannya demi mencukupi kebutuhan air selama musim kemarau yang  berlangsung empat hingga lima bulan. Itulah masa perjuangan bagi warga yang mayoritas petani dan hanya bisa membuat gaplek ketela  untuk dijual dengan harga 800 rupiah per kilogram.

Saat kemarau, sesungguhnya air dapat ditemukan di sejumlah telaga, yaitu cekungan di kawasan karst yang mampu menyimpan air hujan dalam waktu relatif lama. Menurut Thahyo, dasar telaga di kawasan karst Gunungkidul selalu memiliki ponor (sink hole) atau liang  yang terhubung dengan sistem  aliran sungai bawah tanah. Telaga-telaga itu selalu menyediakan air karena terdapat lapisan lapisan lempung di atas ponor. ”Lempung membuat air tetap tertahan di telaga” tutur Tjahyo

Panel panel tenaga surya , tenaga listrik yang dihasilkan oleh insttalasi ini digunakan untuk menaikkan air dari kedalaman kurang lebih 100 meter

Kurun waktu 1970-an dan 1990-an, warga sempat menyaksikan beberapa telaga kehidupan mereka terancam kerontang. Para peneliti mengisahkan, saat itu pemerintah berinisiatif mengeruk dasar telaga dan melapis dinding telaga dengan semen dengan harapan, air di dalam akan semakin banyak. Celaka, air di telaga-telaga tersebut justru terus menyusut dan mengering. Rupanya, pengerukan membuat lapisan lempung yang menahan air di permukaan ikut terbuang sehingga, berapapun air hujan yang tertampung akan langsung tersedot ke dalam tanah.

Kini, harapan besar terhadap teknologi terletak pada proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Bribin II yang melibatkan berbagai pihak dari Indonesia dan Jerman. Proyek yang dimulai oleh Universitas Karlsruhe Jerman itu memanfaatkan aliran sungai bawah Luweng Sindon di Bribin. Di kedalaman 104 meter, sebuah bendungan dibangun untuk menghasilkan energi listrik yang kemudian dimanfaatkan untuk memompa air tanah ke atas permukaan.

Meski harapan besar ditumpukan, teknologi Bribin II ternyata bukanlah solusi tunggal. Pasalnya, satu proyek tak bisa menjawab persoalan distribusi air bagi seluruh warga Gunungkidul yang jumlahnya 685.210 jiwa dan tersebar di wilayah seluas 1.485,36 kilometer persegi. “Bribin II adalah upaya pertama di dunia yang memanfaatkan teknologi mikrohidro di sungai bawah tanah. Sebagai sebuah riset ini sangat bagus,” jelas Tjahyo.

Tjahyo dan Sintia berhitung, sejatinya Gunungkidul memiliki potensi air nan berlimpah di musim hujan dan musim kemarau. “Sumber utama berasal dari hujan dan curah hujan di Gunungkidul tergolong tinggi. Jadi, air sebenarnya sangat memadai,” imbuh Tjahyo. Namun, air berlimpah yang selalu disimpan dalam perut Bumi itu hingga kini terus memaksa warga berpeluh dalam mengambilnya.

Source : National Geographic Indonesia (Edisi Khusus Air), April 2010