Memutus Mata Rantai Pelanggaran Tata Ruang

Bismillahirrohmanirrahiiim

Kalimat-kalimat ini sudah lama ada di dalam benak saya, Hampir 1 tahun bersarang di sana tetapi selalu saya tahan untuk tidak menulisnya. Nurani akhirnya menguatkan jari-jari saya untuk menuliskan hal ini. Berawal dari pengalaman pribadi dan kepedulian terhadap lingkungan. Bosan mendengar keluhan sebagian masyarakat yang tidak sejalan dengan cara hidup mereka terhadap banjir. Banjir, yang selalu menjadi langganan bagi daerah yang sering terkena banjir, banjir yang mulai mengancam daerah-daerah yang dulunya tidak pernah terkena banjir. Bosan terhadap keluhan sebagian masyarakat terhadap pelemahan hukum tetapi mereka (sebagian masyarakat dan sebagian pemangku kebijakan) tidak pernah mematuhi peraturan yang ada.

Bicara tentang banjir, sebenarnya mudah saja logikanya. Air hujan turun ke bumi, pada saat jumlah air hujan yang turun dapat atau mampu diserap oleh tanah dan di alirkan melalui saluran menuju sungai hingga terus menerus berakhir di laut maka tidak akan terjadi banjir. Laju pertumbuhan penduduk dan ekonomi, membuat jumlah permukaan bumi yang dapat menyerap air hujan berkurang. Berubah menjadi permukiman dan gedung. Tersisa sebagian kecil permukaan bumi untuk meresapkan air hujan tersebut. Hanya tinggal saluran dan sungai yang mempunyai tugas berat dalam menyelamatkan kehidupan manusia dari ancaman banjir. Pertanyaannya, Apakah sebagian atau keseluruhan masyarakat dan pemangku kebijakan tersebut sadar akan pentingnya hal ini?

Saluran Terbuka yang Tidak TerurusGambar 1. Saluran Terbuka yang Tidak Terawat

Saluran dan sungai perlu kita perbesar kapasitas daya tampungnya, saluran dan sungai perlu kita jaga kebersihannya, saluran dan sungai perlu kita jaga fungsinya. Pertanyaannya, Apakah kita sudah  Continue reading

FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrShare