MENGENAL INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL)

IPAL KOMUNAL
Gambar 1. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal

Dalam rangka mendukung upaya pencapaian salah satu target Millennium Development Goals pada tahun 2015, yaitu menurunkan sebesar 50% dari jumlah penduduk  yang belum memiliki akses air minum dan sanitasi dasar juga penyehatan lingkungan. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum melalui Dirjen Cipta Karya mendorong Program Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat yang merupakan kegiatan pendukung percepatan pencapaian MDG’s.

Program Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat merupakan salah satu Komponen Program Urban Sanitation and Rural Infrastructure (USRI) yang diselenggarakan sebagai salah satu Program Pendukung PNPM Mandiri. Dalam penyelenggaraannya, kegiatan ini menekankan pada keterlibatan masyarakat secara utuh dalam hal peningkatan kualitas prasarana dan sarana sanitasi di perkotaan.

Air limbah berupa black water yang berisi kotoran akan berakhir di septic tank. Walaupun jarang kita sadari, peran septic tank  Continue reading

FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrShare

BAJA RINGAN SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BANGUNAN

BAJA RINGAN

Penggunaan struktur baja ringan dalam dunia konstruksi saat ini telah berkembang dengan pesat. Sesuai dengan namanya, struktur baja ringan tersusun dari batang-batang baja profil yang relatif lebih ringan dibandingkan batang baja pada umumnya. Baja profil ini mempunyai ketebalan yang relatif tipis.

Pada umumnya, bahan baku baja ringan adalah baja G550. Baja G550 adalah baja mutu tinggi dengan standar high tensile strength 550 Mpa (5500 kg/cm2). Kekuatan ini merupakan elemen dasar untuk kekuatan tarik baja ringan saat ini. Dengan kekuatan minimum G550, baja ringan tersebut memiliki kekuatan leleh minimum 550 Mpa. Dibuktikan dalam uji laboratorium tidak boleh putus saat ditarik dengan kekuatan 500 Mpa. Selain itu, baja tersebut juga memiliki modulus geser 80.000 MPa dan modulus elastisitasnya 200.000 Mpa.

Baja ringan dibuat dari lembaran baja atau pelat baja tipis yang dipotong-potong dan  terbuat dari baja murni kemudian dibentuk dengan mesin roll-forming. Proses pengerjaan dilakukan dalam kondisi dingin, sehingga sering dikenal dengan nama baja canai dingin (cold-formed atau cold-rolled. Proses rolling kompres dan membentang baja, pemberian gaya atau tegangan terjadi  dalam proses tersebut. Sedangkan  kekakuan didapat dari proses memberi tekukan (pemberian gaya) itulah sebabnya mengapa baja ringan mempunyai mutu tinggi. Sedangkan baja yang biasa dibentuk dalam keadaan masih panas dinamakan baja canai panas (hot-rooled).

Dalam Dewobroto dkk (2006) dilaporkan bahwa pemakaian baja  cold-formed di Amerika untuk struktur bangunan sudah berkembang sejak lima decade yang lalu atas dukungan AISI ( American Iron and Steel Institute). Sejak itu baja canai dingin banyak digunakan untuk struktur bangunan, baik struktur sekunder, misalnya sebagai kerangka dinding/partisi maupun struktur primer, misalnya rangkat atap (truss) dan rangka utama bangunan (frame), Gambar 1. Pemakaian baja ringan sebagai bahan bangunan seperti rangka atap, rangka plafond, rangka dinding dan rangka lantai. Jenis baja ini juga sudah banyak digunakan untuk bangunan sederhana maupun bangunan tinggi sebagai pengganti kayu yang semakin mahal, langka dan mudah dimakan rayap.

Aplikasi baja ringan sebagai bahan bangunan

Gambar 1 . Aplikasi Pemakaian Baja Ringan Sebagai Bahan Bangunan

Dalam praktek ada beberapa pertimbangan keunggulan pemilihan struktur baja ringan, antara lain:

  1. Kecepatan pemasangan
  2. Kerapihan
  3. Ringan
  4. Biaya
  5. Ketahanan terhadap kondisi lingkungan

Keunggulan pemakaian baja ringan tersebut didukung oleh profesionalisme dan pelaksanaan di lapangan yang ditangani oleh perusahaan spesialis, sehingga struktur baja ringan ini merupakan satu alternatif yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan bahan

Karena masa konstruksi cepat, baja ringan ini juga banyak digunakan untuk untuk rekonstruksi rumah di daerah yang mengalami bencana alam. Dalam masa rekonstruksi umumnya dituntut pembuatan bangunan rumah dalam jumlah yang banyak dan selesai dalam waktu cepat, agar korban tidak terlalu lama dalam pengungsian (Triwiyono, 2006). Continue reading