Memutus Mata Rantai Pelanggaran Tata Ruang

Bismillahirrohmanirrahiiim

Kalimat-kalimat ini sudah lama ada di dalam benak saya, Hampir 1 tahun bersarang di sana tetapi selalu saya tahan untuk tidak menulisnya. Nurani akhirnya menguatkan jari-jari saya untuk menuliskan hal ini. Berawal dari pengalaman pribadi dan kepedulian terhadap lingkungan. Bosan mendengar keluhan sebagian masyarakat yang tidak sejalan dengan cara hidup mereka terhadap banjir. Banjir, yang selalu menjadi langganan bagi daerah yang sering terkena banjir, banjir yang mulai mengancam daerah-daerah yang dulunya tidak pernah terkena banjir. Bosan terhadap keluhan sebagian masyarakat terhadap pelemahan hukum tetapi mereka (sebagian masyarakat dan sebagian pemangku kebijakan) tidak pernah mematuhi peraturan yang ada.

Bicara tentang banjir, sebenarnya mudah saja logikanya. Air hujan turun ke bumi, pada saat jumlah air hujan yang turun dapat atau mampu diserap oleh tanah dan di alirkan melalui saluran menuju sungai hingga terus menerus berakhir di laut maka tidak akan terjadi banjir. Laju pertumbuhan penduduk dan ekonomi, membuat jumlah permukaan bumi yang dapat menyerap air hujan berkurang. Berubah menjadi permukiman dan gedung. Tersisa sebagian kecil permukaan bumi untuk meresapkan air hujan tersebut. Hanya tinggal saluran dan sungai yang mempunyai tugas berat dalam menyelamatkan kehidupan manusia dari ancaman banjir. Pertanyaannya, Apakah sebagian atau keseluruhan masyarakat dan pemangku kebijakan tersebut sadar akan pentingnya hal ini?

Saluran Terbuka yang Tidak TerurusGambar 1. Saluran Terbuka yang Tidak Terawat

Saluran dan sungai perlu kita perbesar kapasitas daya tampungnya, saluran dan sungai perlu kita jaga kebersihannya, saluran dan sungai perlu kita jaga fungsinya. Pertanyaannya, Apakah kita sudah  Continue reading

FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrShare

MEMELIHARA KELESTARIAN ALAM DAN MENGAKRABKAN DIRI DENGAN BENCANA

Pada awal  tahun 2014 kita melihat ibukota negara tertimba bencana banjir. Curah hujan yang  tinggi menambah luas wilayah yang terendam air. Banjir juga melanda Manado, Banten, Tangerang, Indramayu, Pekalongan, Semarang, Kudus, Pati dan daerah lain di wilayah Indonesia. Bencana tanah longsor juga melanda beberapa wilayah Indonesia. Terkini, hari Sabtu tanggal 25 Januari 2014, Indonesia diguncang gempa di barat daya Kabupaten Kebumen. Kita perlu menyadari letak negara kita yang berada pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng benua Asia, lempeng benua Australia, lempeng samudera Hindia, dan lempeng samudera Pasifik mengakibatkan kawasan Indonesia rawan dilanda  gempa bumi. Selain itu Indonesia terletak di kawasan yang disebut dengan pacific ring of fire, di mana terdapat 83 gunung berapi aktif tersebar diwilayah Indonesia (National Geographic- Indonesia’s Ring of Fire : Living with volcanoes) , daerah dimana lebih dari 90% aktifitas gempa bumi terjadi.

Pasific ring of fire

Gambar 1. Pasific Ring Of Fore

Semua bencana tersebut telah terjadi, sangat tidak bijak jika kita saling menyalahkan dan saling menuding siapa yang paling bertanggung jawab atas bencana tersebut. Yuk, kita duduk bersama merenungkan apa yang telah kita lakukan terhadap lingkungan kita sejauh ini. Lepaskan ego, berpikirlah jernih. Letak negara kita seperti tersebut di atas, mempunyai 83 gunung api yang suatu saat akan meletus. Entah sekarang, besok, lusa atau entah kapan. Satu per satu meletus, atau meletus bersamaan. Kita tidak tahu kapan hal tersebut terjadi. Pernahkah kita berpikir tentang hal tersebut? Saya tidak menakut-nakutin, tapi inilah nusantara kita tercinta, Indonesia. Selain  Continue reading

BELAJAR ARIF DARI SUKU BADUI

Sungai

Gambar 1. Sungai

Kearifan lokal masyarakat baduy perlu ditiru. Terutama aturan merawat hutan dan sungai. Penduduk kota mengenyam pendidikan formal mestinya malu dengan orang Baduy yang hidup di hutan namun setia merawat lingkungan.

Merawat Sungai

Selain memiliki aturan keras terhadap pengelolaan ladang dan hutan, masyarakat Baduy juga memiliki aturan keras terhadap pengelolaan sungai. Masyarakat Baduy dalam, dilarang keras mengotori sungai dengsn ahan kimia apapun. Ketika mandi di sungai, mereka dilarang memakai sabun dan samphoo. Mereka juga tidak bisa menggunakan pasta gigi.

Aturan yang satu ini diterapkan kepada seluruh orang yang memasuki wilayah Baduy dalam. “Sebagai ganti sabun dan pasta gigi kami menggunakan batang dan bunga pohon honje. Selain bisa membersihkan badan, pohon honje juga akan membuat tubuh wangi. Kalau sikat gigi kami pakai sabut kelapa.”

Aturan menjaga sungai dari bahan kimia sudah diajarkan secara turun temurun. “Nenek moyang kami melarang kami mengotori sungai. Sungai harus  dijaga kebersihan dan kelestariannya.”

Penggunaan sabun, shampoo dan pasta gigi bisa dilakukan di wilayah Baduy luar. Di wilayah itu aturan pengelolaan sungai agak longgar.

Direktur Permukiman dan Perumahan Badan Petencanaan Pembangunan Nasional, Nugroho Tri Utomo mengatakan kearifan lokalmasyarakat Baduy Dalam menjaga lingkungan perlu ditiru masyarakat lainnya. Terutama kebiadaan mereka menjaga hutan dan sungai. Orang di perkotaan yang memiliki pendidikan formal semestinya malu dengan oramg Baduy di hutan yang bisa menjaga lingkungannya.  Di kota banyak orang membuang sampah sembarangan, mengotori sungai dan merusak fungsi sungai bagi kelestarian alam

Sungai dan kompenen pendukungnya

Sungai merupakan tempat mengalirnya air yang nantinya berakhir di laut. Tidak hanya berfungsi mengalirkan air, sungai juga merupakan habitat bagi kehidupan air. Beberapa makhluk hidup air seperti ikan, udang, kerang air tawar, siput dan masih banyak lagi hidupnya bergantung pada sungai. Tumbuhan dan vegetasi  juga tumbuh subur di sepanjang sungai. Manusia juga memerlukan air sungai untuk mengairi sawah dan ladangnya menunjukkan betapa pentingnya fungsi aliran sungai.

Mari kita mengenal Sungai, sungai memiliki komponen yang dinamakan bantaran sungai. Bantaran sungai ini letaknya berada di kanan dan kiri memanjang sepanjang aliran sungai. Konturnya berada lebih tinggi dari dasar sungai itu sendiri, bantaran sungai ini memiliki fungsi penting, yaitu menampung luapan air jika sungai sudah tidak mampu lagi  menampung kapasitas air dalam badan sungai. Permasalahan banjir yang terjadi di kota besar, salah satunya disebabkan alih fungsi bantaran sungai menjadi permukiman liar. Permukiman yang salah lokasi ditambah dengan gaya hidup yang tidak sehat, membuang sampah sembarangan menyebabkan pendangkalan dan aliran air sungai tidak dapat mengalir secara optimal sehingga mengakibatkan banjir.

Drainase / Pipa pembuangan 2

Gambar 2. Potret Drainase Perkotaan di Tengah Kota

Drainase, drainase perkotaan atau yang lebih dikenal dengan saluran merupakan faktor utama penentu tingkat pencemaran sungai. Umumnya warga mengalirkan air limbah rumah tangga langsung ke saluran-saluran disekitar rumah mereka. Minimnya kesadaran menjaga lingkungan ditambah kurangnya peran aktif dari institusi terkait memperparah kondisi pencemaran tingkat drainase perkotaan yang kemudian akan dibawa mengalir ke sungai. Jujur saja apakah rumah kita masing-masing, sudahkah adakah bak ontrol untuk mengendapkan, mengolah air sisa mandi, air sisa mencuci, air sisa cucian dapur sebelum keluar menuju saluran/ drainase perkotaan? Sudahkah ada penyaring dengan zeolit dan karbon aktif untuk menjernihkan dan menetralisir limbah rumah tangga tersebut? Jangan salahkan warga, bisa jadi belum banyak yang tahu bagaimana cara mengolah air limbah sisa rumah tangga tersebut supaya alam terhadap lingkungan. Ini tugas kita, ini pekerjaan rumah untuk kita semua. tanggung jawab kita bersama.

Apakah itu Saluran Terbuka dan Saluran Tertutup?

Berbicara tentang drainase, drainase perkotaan kita dapat lepas dari saluran. Sebagian besar orang teknik tentu sudah mengetahui apakah itu saluran terbuka dan apakah itu saluran tertutup? Saluran terbuka adalah Continue reading