BELAJAR ARIF DARI SUKU BADUI

Sungai

Gambar 1. Sungai

Kearifan lokal masyarakat baduy perlu ditiru. Terutama aturan merawat hutan dan sungai. Penduduk kota mengenyam pendidikan formal mestinya malu dengan orang Baduy yang hidup di hutan namun setia merawat lingkungan.

Merawat Sungai

Selain memiliki aturan keras terhadap pengelolaan ladang dan hutan, masyarakat Baduy juga memiliki aturan keras terhadap pengelolaan sungai. Masyarakat Baduy dalam, dilarang keras mengotori sungai dengsn ahan kimia apapun. Ketika mandi di sungai, mereka dilarang memakai sabun dan samphoo. Mereka juga tidak bisa menggunakan pasta gigi.

Aturan yang satu ini diterapkan kepada seluruh orang yang memasuki wilayah Baduy dalam. “Sebagai ganti sabun dan pasta gigi kami menggunakan batang dan bunga pohon honje. Selain bisa membersihkan badan, pohon honje juga akan membuat tubuh wangi. Kalau sikat gigi kami pakai sabut kelapa.”

Aturan menjaga sungai dari bahan kimia sudah diajarkan secara turun temurun. “Nenek moyang kami melarang kami mengotori sungai. Sungai harus  dijaga kebersihan dan kelestariannya.”

Penggunaan sabun, shampoo dan pasta gigi bisa dilakukan di wilayah Baduy luar. Di wilayah itu aturan pengelolaan sungai agak longgar.

Direktur Permukiman dan Perumahan Badan Petencanaan Pembangunan Nasional, Nugroho Tri Utomo mengatakan kearifan lokalmasyarakat Baduy Dalam menjaga lingkungan perlu ditiru masyarakat lainnya. Terutama kebiadaan mereka menjaga hutan dan sungai. Orang di perkotaan yang memiliki pendidikan formal semestinya malu dengan oramg Baduy di hutan yang bisa menjaga lingkungannya.  Di kota banyak orang membuang sampah sembarangan, mengotori sungai dan merusak fungsi sungai bagi kelestarian alam

Sungai dan kompenen pendukungnya

Sungai merupakan tempat mengalirnya air yang nantinya berakhir di laut. Tidak hanya berfungsi mengalirkan air, sungai juga merupakan habitat bagi kehidupan air. Beberapa makhluk hidup air seperti ikan, udang, kerang air tawar, siput dan masih banyak lagi hidupnya bergantung pada sungai. Tumbuhan dan vegetasi  juga tumbuh subur di sepanjang sungai. Manusia juga memerlukan air sungai untuk mengairi sawah dan ladangnya menunjukkan betapa pentingnya fungsi aliran sungai.

Mari kita mengenal Sungai, sungai memiliki komponen yang dinamakan bantaran sungai. Bantaran sungai ini letaknya berada di kanan dan kiri memanjang sepanjang aliran sungai. Konturnya berada lebih tinggi dari dasar sungai itu sendiri, bantaran sungai ini memiliki fungsi penting, yaitu menampung luapan air jika sungai sudah tidak mampu lagi  menampung kapasitas air dalam badan sungai. Permasalahan banjir yang terjadi di kota besar, salah satunya disebabkan alih fungsi bantaran sungai menjadi permukiman liar. Permukiman yang salah lokasi ditambah dengan gaya hidup yang tidak sehat, membuang sampah sembarangan menyebabkan pendangkalan dan aliran air sungai tidak dapat mengalir secara optimal sehingga mengakibatkan banjir.

Drainase / Pipa pembuangan 2

Gambar 2. Potret Drainase Perkotaan di Tengah Kota

Drainase, drainase perkotaan atau yang lebih dikenal dengan saluran merupakan faktor utama penentu tingkat pencemaran sungai. Umumnya warga mengalirkan air limbah rumah tangga langsung ke saluran-saluran disekitar rumah mereka. Minimnya kesadaran menjaga lingkungan ditambah kurangnya peran aktif dari institusi terkait memperparah kondisi pencemaran tingkat drainase perkotaan yang kemudian akan dibawa mengalir ke sungai. Jujur saja apakah rumah kita masing-masing, sudahkah adakah bak ontrol untuk mengendapkan, mengolah air sisa mandi, air sisa mencuci, air sisa cucian dapur sebelum keluar menuju saluran/ drainase perkotaan? Sudahkah ada penyaring dengan zeolit dan karbon aktif untuk menjernihkan dan menetralisir limbah rumah tangga tersebut? Jangan salahkan warga, bisa jadi belum banyak yang tahu bagaimana cara mengolah air limbah sisa rumah tangga tersebut supaya alam terhadap lingkungan. Ini tugas kita, ini pekerjaan rumah untuk kita semua. tanggung jawab kita bersama.

Apakah itu Saluran Terbuka dan Saluran Tertutup?

Berbicara tentang drainase, drainase perkotaan kita dapat lepas dari saluran. Sebagian besar orang teknik tentu sudah mengetahui apakah itu saluran terbuka dan apakah itu saluran tertutup? Saluran terbuka adalah Continue reading

FacebookTwitterGoogle+LinkedInTumblrShare

BELAJAR ATAU BUBAR

Sebuah ungkapan arif pernah bertutur : “we can never step into the same river twice  “. Ini bisa terjadi, karena tiap detik air sungai itu berganti. Sama dan sebangun dengan sungai, sejarah dan kecenderungan juga demikian. Tidak ada sejarah dan kecenderungan yang berulang sama persis sama, jangankan dalam dimensi tahunan dan abad, dalam dimensi harian saja sejarah dan kecenderungan muncul dengan wajah berbeda.

Lihat saja sejarah negara, kisah perseorangan, satu-satunya yang tetap hanyalah perubahan. Diluar perubahan hanya ada perubahan. Belakangan perubahan itu bahkan bergerak dengan kecepatan tinggi dan semakin tinggi. Runtuhnya rezim politik yang berkuasa dalam waktu lama, semakin tidak jelas batas-batas persaingan, pengaruh teknologi informasi yang demikian dahsyat, semakin banyak dan dalamnya knowledge content, hanyalah sebagian saja dari bukti dahsyatnya perubahan.

Lebih dari sekedar memaksa kita untuk berubah, sejumlah aturan main,paradigma dan sejenisnya bahkan dijungkirbalikkan oleh kecenderungan dan perubahan.

Mirip dengan pengandaian sungai di atas, kecenderungan memang berganti wajah setiap saat. Ia tidak menyisakan alternatif lain selain harus berubah. Sayangnya merubah mind set memiliki derajat kesulitan yang jauh lebih tinggi disbanding merubah teknologi dan variable perubahan lainnya. Baik karena factor keberhasilan, kenyamanan, pendidikan, pengalaman, atau sebab lainnya.

Dalam bingkai hidup seperti ini, tentu saja hanya sebuah gerakan bunuh diri kalau ada pelaku organisasi yang hidup nyaman dalam comfortable zone of mind. Sebuah wilayah berfikir tanpa penyangkalan. Sinyal apakah anda sedang bunuh diri atau tidak, sebenarnya mudah dan sederhana. Coba perhatikan kehidupan anda dalam mengelola keyakinan-keyakinan anda, kalau dalam waktu yang amat lama tidak ada perubahan, alias berputar dari itu ke itu, inilah bentuk bunuh diri yang halus dan tidak manusiawi. Halus, karena tidak anda sadari. Tidak manusiawi, karena keluar dari kebiasaan umum manusia untuk bunuh diri. Lebih lebih, sudah tidak berubah dalam waktu yang amat lama, ditambah dengan kebiasaan alam bawah sadar yang kerap berujar : “ saya sudah berpengalaman bertahun-tahun, saya memiliki setumpuk harta, saya keturunan bangsawan, saya mempunyai orang-orang yang rela berkorban demi kepentingan saya “ dan sederetan kebanggaan lainnya.

Inilah deretan manusia yang sangat potensial membuat Indonesia bubar. Dibandingkan bubar, lebih baik membekali diri dengan kebiasaan belajar. Pondasi dalam aktivitas belajar salah satunya adalah keberanian untuk secara rajin melakukan penyangkalan terhadap paradigma dalam mengelola keyakinan-keyakinan kita sendiri.

Darimanapun paradigma dan keyakinan itu sendiri datang, entah dari pengalaman, pendidikan atau rekomendasi pakar sebelum dibunuh secara halus dan tidak manusiawi, sebaiknya disangkal, disangkal dan disangkal.

Sebagiamana dituturkan secara amat kaya oleh sejarah, perkembangan peradaban bias demikian pesat karena kental dengan penyangkalan.

Bumi datar disangkal dengan bumi bulat, manusia tidak bias terbang disangkal dengan pesawat terbang, bulan tidak dapat diduduki disangkal dengan penerbangan Apollo, dunia yang penuh batas negara dijebol dengan teknologi internet, telepon dengan kabel disangkal dengan telepon seluler.

Maka kayalah secara ide dan inovasi dalam membuat penyangkalan. Dahulu, manusia dihormati identik karena keturunan darah biru, kekayaan fisik dan materi. Sekarang, sebagaimana dibuktikan dan harus selalu dibuktikan kekayaan intelektuallah yang amat menentukan, didukung dengan rasa saling menghormati sesama manusia tanpa membedakan tetesan darah dan keturunan. Lompatan kemajuan, perubahan bias dilakukan siapa saja, asal ya itu tadi kekayaan intelektual dan bathin terkelola dengan memadai. Dulu, kecenderungan adalah sesuatu yang given dan mesti diadaptasi. Sekarang, ada banyak orang yang justru maju karena menciptakan kecenderungan.

Mirip tentang sungai, ada yang mengatakan sungai itu air. Ada yang menyangkal bahwa sungai itu adalah cekungan dan lekukan tanah.

Dalam kasus ini, kegiatan penyangkalan tidak me- nol kan apalagi mensubtitusikan argumen yang disangkalnamun hendaknya saling melengkapi

Proses melengkapi ini seyogyanya dilakukan oleh pemimpin atau manajemen puncak. Bisa dibayangkan  apa jadinya Indonesia jika dipimpin oleh manusia-manusia yang tidak pernah belajar. Jauh lebih berguna belajar dibandingkankan bubar.

PERBURUAN AIR DI GUNUNGKIDUL

Sungai menderas di utara. Di selatan air melaju nun jauh di bawah tanah. Di atasnya hiduplah masyarakat yang beburu air sepanjang tahun.

Di suatu pagi yang temaram, sekelompok lelaki tanah kapur berjalan beriringan memasuki sebuah mulut gua. Beberapa memanggul jerigen plastic atau kaleng. Yang lainnya menggenggam erat obor yang menyala. Mereka hendak memburu air. Di dalam kegelapan relung-relung perut Bumi yang lembap, obor adalah pelita, juga menanda cukup tidaknya udara segar. Bila api dari obor telah padam, berarti oksigen telah menipis dalam ruang yang mereka pijak dan itu artinya mereka harus berbalik pulang ke rumah dengan atau tanpa air. Keseharian manusia tanah kapur Gunungkidul memang penuh dengan perjuangan mencari air bagi kehidupan sehari-hari, sejak dulu.

Tanah Gunungkidul selatan yang gamping memaksa warga memeras keringat demi air bersih. Di wilayah tersebut, tanah tidak pernah membiarkan air hujan menggenang lama. Air hanya mengalir di di perut bumi dan bias ditemukan dengan menuruni lorong-lorong gua. “Ada yang cukup ditelusuri dengan jalan kaki melalui gua horizontal dan tidak terlalu dalam. Ada juga yang jauh sekali di dalam. Ada yang terletak di kedalaman 100 meter lebih dari permukaan luweng atau liang vertikal” papar Sintia Windhi, ahli Geofisika Universitas Gadjah Mada yang juga seorang penelusur gua.

Gunungkidul selatan merupakan kawasan perbukitan karst, bagian dari Pegunungan Karst Gunungsewu yang membujur di selatan Jawa. Menurut Sintia, dahulu wilayah selatan Gunungkidul adalah dasar laut yang kedalamannya berkisar hingga 200 meter. Butuh proses yang memakan waktu 15 juta tahun bagi dasar laut yang dipenuhi terumbu karang itu untuk terngkt ke atas laut, menjadi batu, tenggelam kembali di bawah permukaan air (pada masa ini terumbu karang tumbuh kembali), kemudian terangkat kembali ke permukaan sehingga kini akhirnya didiami oleh penduduk. Alhasil kawasan Gunungkidul selatan tersusun dari lapisan-lapisan karang yang terbatukan menjadi gamping.

Ahli hidrologi karst Universitas Gadjah Mada Tjahyo Nugroho Adji menambahkan, epikarst (bagian paling atas dari wilayah karts, berupa bukit berbentuk kerucut) memiliki fungsi paling vital dalam penyediaan air. Lapisan yang memiliki ketebalan maksimal 5 meter itu terbentuk dari gamping yang lapuk dan terlarut jadi lapisan tanah. Inilah bagian terbesar yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan air tanah yang jatuh di kawasan Gunungkidul selatan.

”Namun, air yang berada di lapisan ini tidak bisa diambil karena masih tercampur dengan udara dan tanah. Air ini baru bisa digunakan jika sudah mengalir menjadi sungai bawah tanah. Jadi jika kawasan epikarst tidak dikonservasi, maka debit air sungai bawah tanah berkurang pula” paparnya.

Nasib sejarah Buni inilah yang membuat Gunungkidul selatan tidak seelok Gunungkidul utara yang berupa perbukitan tanah vulkanis tua, dikenal sebagai daerah Perbukitan Baturagung. Daerah ini memiliki sifat tanah yang tipis dengan batuan beku, keras dan sulit menyimpan air. Saat tercurah dari langit, air pun akan langsung mengalir membentuk sungai di permukaan lanskap tanahnya.

Sehingga, meski terletak jauh dari sungai warga di sejumlah pedusunan masih tetap bisa mengalirkan air sungai dengan pipa-pipa bambu atau PVC yang sambung menyambung hingga sepanjang 2,5 kilometer. Prakteknya itu misalnya dapat dilihat di dudun Nglampar, Kecamatan Patuk, Gunungkidul utara.

Tetangganya di wilayah Gunungkidul tengah juga memiliki nasib lebih baik. Pada zaman Miosen, saat wilayah selatan terangkat, bagian tengah mengalami tekanan hingga membentuk cekungan. Saat itu sungai bawah tanah di wilayah selatan belum terbentuk sehingga aliran air dari pengunungan karst di bagian timur dan tyimur laut mengalir ke cekungan ini sambil membawa rombakan batu gamping dan mengendapkannya. Lama kelamaan endapan berubah menjadi tanah tebal sehingga cekungan itu menjadi pusat kehidupan yang kaya air.

Hingga kini, masyarakat di wilayah Gunungkidul tengah mampu menemukan air melimpah di sumur dangkal berkedalaman lima hingga 12 meter yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, juga untuk bercocok tanam sepanjang tahun.

Di Selatan saat musim penghujan, masyarakat berusaha memanen hujan dengan menggunakan  bak penampungan. Saat kemarau mendera, berbagai bentuk perburuan air pun dimulai. Dengan berjalan kaki atau sepeda motor, warga tanah kapur akan pergi mencari gua tempat mengalirnya sungai-sungai bawah tanah, sumur dalam yang masih basah, atau kubangan yang tetap menyisakan air.

Beruntung sebagian dari mereka terutama di permukiman yang teramat jauh dari sumber air kini dapat mengandalkan truk-truk tangki bantuan pemerintah atau organisasi nirlaba yang berkunjung di permukiman mereka. Hanya saja, setiap kepala keluarga tetap harus merogoh kantong hingga 100 ribu rupiah setiap bulannya demi mencukupi kebutuhan air selama musim kemarau yang  berlangsung empat hingga lima bulan. Itulah masa perjuangan bagi warga yang mayoritas petani dan hanya bisa membuat gaplek ketela  untuk dijual dengan harga 800 rupiah per kilogram.

Saat kemarau, sesungguhnya air dapat ditemukan di sejumlah telaga, yaitu cekungan di kawasan karst yang mampu menyimpan air hujan dalam waktu relatif lama. Menurut Thahyo, dasar telaga di kawasan karst Gunungkidul selalu memiliki ponor (sink hole) atau liang  yang terhubung dengan sistem  aliran sungai bawah tanah. Telaga-telaga itu selalu menyediakan air karena terdapat lapisan lapisan lempung di atas ponor. ”Lempung membuat air tetap tertahan di telaga” tutur Tjahyo

Panel panel tenaga surya , tenaga listrik yang dihasilkan oleh insttalasi ini digunakan untuk menaikkan air dari kedalaman kurang lebih 100 meter

Kurun waktu 1970-an dan 1990-an, warga sempat menyaksikan beberapa telaga kehidupan mereka terancam kerontang. Para peneliti mengisahkan, saat itu pemerintah berinisiatif mengeruk dasar telaga dan melapis dinding telaga dengan semen dengan harapan, air di dalam akan semakin banyak. Celaka, air di telaga-telaga tersebut justru terus menyusut dan mengering. Rupanya, pengerukan membuat lapisan lempung yang menahan air di permukaan ikut terbuang sehingga, berapapun air hujan yang tertampung akan langsung tersedot ke dalam tanah.

Kini, harapan besar terhadap teknologi terletak pada proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Bribin II yang melibatkan berbagai pihak dari Indonesia dan Jerman. Proyek yang dimulai oleh Universitas Karlsruhe Jerman itu memanfaatkan aliran sungai bawah Luweng Sindon di Bribin. Di kedalaman 104 meter, sebuah bendungan dibangun untuk menghasilkan energi listrik yang kemudian dimanfaatkan untuk memompa air tanah ke atas permukaan.

Meski harapan besar ditumpukan, teknologi Bribin II ternyata bukanlah solusi tunggal. Pasalnya, satu proyek tak bisa menjawab persoalan distribusi air bagi seluruh warga Gunungkidul yang jumlahnya 685.210 jiwa dan tersebar di wilayah seluas 1.485,36 kilometer persegi. “Bribin II adalah upaya pertama di dunia yang memanfaatkan teknologi mikrohidro di sungai bawah tanah. Sebagai sebuah riset ini sangat bagus,” jelas Tjahyo.

Tjahyo dan Sintia berhitung, sejatinya Gunungkidul memiliki potensi air nan berlimpah di musim hujan dan musim kemarau. “Sumber utama berasal dari hujan dan curah hujan di Gunungkidul tergolong tinggi. Jadi, air sebenarnya sangat memadai,” imbuh Tjahyo. Namun, air berlimpah yang selalu disimpan dalam perut Bumi itu hingga kini terus memaksa warga berpeluh dalam mengambilnya.

Source : National Geographic Indonesia (Edisi Khusus Air), April 2010